ABUNALI JA'FAR

Jumat, 30 Agustus 2013

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN TANAMAN RAMBUTAN (Nephelium lappaceun Linn) DIKAWASAN AGROWISATA AROSGERAH (AROSBAYA, GEGER, DAN TANAH MERAH) BANGKALAN

http://abunali84.blogspot.com/

Kabupaten Bangkalan merupakan salah satu daerah potensial dalam bidang pertanian yang belum dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata. Terlebih di wilayah Kabupaten Bangkalan memiliki komoditas hortikultura yang menjadi ciri khas yang belum dikembangkan secara maksimal. Selain memiliki komoditas hortikultura yang bisa dijadikan daya tarik wisata Kabupaten Bangkalan juga memiliki daya tarik di sektor wisata, yaitu berupa sektor wisata religi dan wisata alam.  Secara umum telah disadari bahwa dalam menunjang pengembangan sektor pariwisata berupa agrowisata yang memiliki beraneka ragam obyek serta daya tarik, kadar hubungan, lokasi serta ketersediaan dana dan berbagai faktor penentu lainnya (Anonimous, 2012).  Salah satu komoditas unggulan yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah tanaman rambutan. Rambutan (Nephelium lappaceun Linn) merupakan salah satu jenis buah-buahan yang banyak dibudidayakan karena rasanya yang enak serta mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh manusia. Di Indonesia tanaman rambutan (Nephelium lappaceun Linn) sangat cocok dibudidayakan karena Indonesia memiliki iklim tropis yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman rambutan (Nephelium lappaceun Linn). Peningkatan pendapatan dari sektor pertanian tidak hanya terfokus pada swasembada tanaman pangan, akan tetapi juga mencakup usaha pertanian lainnya. Pembangunan sektor pertanian tidak hanya ditujukan untuk menetapkan swasembada beras dan palawija, juga mencakup usaha-usaha peningkatan produksi pangan yang berasal dari komoditas hortikultura dan perkebunan yang memegang peranan penting dalam pembangunan nasional baik dari segi kesehatan, penyerapan tenaga kerja maupun peningkatan devisa Negara (Cahyono, 1994). 



Berdasarkan laporan tahunan Dispertanak Kabupaten Bangkalan 2012 tanaman rambutan (Nephelium lappaceun Linn) mempunyai produksi 46.700 kuintal pertahun oleh sebab itu, pengembangan tanaman rambutan (Nephelium lappaceun Linn) di Kabupaten Bangkalan sangat berpotensi sehingga perlu adanya evaluasi kesesuaian lahan. Sumberdaya lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia karena setiap kegiatan manusia selalu memerlukan ruang dan lahan. Penggunaan sumberdaya lahan khususnya untuk aktivitas pertanian pada umumnya ditentukan oleh kemampuan lahan atau kesesuaian lahan. Lahan mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam upaya pengembangan suatu komoditas, karena pertumbuhan tanaman memerlukan lingkungan tumbuh yang sesuai dengan karakteristik tanaman. Kondisi tersebut akan berpengaruh terhadap produksi dan produktivitas suatu tanaman. Pemilihan lahan yang sesuai dengan karakteristik tumbuh tanaman akan mempunyai pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan, produksi dan produktivitas tanaman.


Penilaian daya  dukung  lahan  suatu  wilayah  terhadap  suatu  peruntukan diwujudkan dalam bentuk kegiatan evaluasi lahan. Hasil evaluasi lahan  dinyatakan dengan  sangat  sesuai (S1), cukup sesuai (S2), sesuai marjinal (S3), dan tidak sesuai (N). Menurut Hardjowigeno (2002) diketahuinya data kesesuaian  lahan  dan  data produksi  serta  produktivitas  komoditas di daerah penelitian  akan  dapat menemukan keselarasan  antara  kondisi  lahan  dengan kemampuan berproduksinya, sehingga diketahui wilayah-wilayah yang berkonstribusi positif terhadap pengusahaan komoditas unggulan maupun yang bermasalah.





Agrowisata





Agrowisata atau agroturisme didefinisikan sebagai sebuah bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (agribisnis) sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian. Agrowisata merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek wisata. Tujuannya adalah untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, diharapkan bisa meningkatkan pendapatan petani sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal (indigenous knowledge) yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya (Anonimous, 2005).


Konsep agrowisata merupakan kegiatan yang berupaya mengembangkan sumberdaya alam suatu daerah yang memiliki potensi di bidang pertanian untuk dijadikan kawasan wisata. Daerah perkebunan, sentra penghasil sayuran tertentu dan wilayah perdesaan berpotensi besar menjadi objek agrowisata. Potensi yang terkandung tersebut harus dilihat dari segi lingkungan alam, letak geografis, jenis produk, atau komoditas pertanian yang dihasilkan, serta sarana dan prasarananya (Sumarwoto, 1990). Sementara itu, ada juga pandangan yang menyebutkan bahwa agrowisata adalah usahatani yang pemasarannya berorientasi pada kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan pariwisata. Misalnya usaha penggemukan sapi atau budidaya sayur-sayuran yang pemasaran hasilnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hotel atau restoran yang melayani wisatawan. Di sini teknologi yang diterapkan adalah teknologi usahatani yang dapat mencapai mutu produksi sesuai dengan permintaan hotel atau restoran. Jadi agrowisata merupakan salah satu bentuk kegiatan agribisnis. Pandangan-pandangan tentang agrowisata sebagaimana disebutkan sebelumnya, pada dasarnya memberikan pengertian bahwa adanya keinginan untuk mengkaitkan antara sektor pertanian dan sektor pariwisata. Harapannya adalah agar sektor pertanian dapat semakin berkembang, karena mendapatkan nilai-tambah dari sentuhannya dengan sektor pariwisata. Secara singkat mungkin dapat disebutkan bahwa agrowisata adalah suatu kegiatan yang secara sadar ingin menempatkan sektor primer (pertanian) di kawasan sektor tersier (pariwisata), agar perkembangan sektor primer itu dapat lebih dipercepat, dan petani mendapatkan peningkatan pendapatan dari kegiatan pariwisata yang memanfaatkan sektor pertanian tersebut. Dengan demikian akan dapat lebih mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bekerja di sektor primer, atau sektor primer (pertanian) tidak semakin terpinggirkan dengan perkembangan kegiatan di sektor pariwisata. Kegiatan agrowisata dapat disebutkan sebagai kegiatan yang memihak pada rakyat miskin (Goodwin, 2000).





Evaluasi Kesesuaian Lahan Tanaman Rambutan di Kabupaten Bangkalan





Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan, kelas kesesuaian lahan tanaman rambutan (Nephelium lappaceum Linn) yang teridentifikasi di kawasan Agrowisata ArosGeRah (Arosbaya, Geger, dan Tanah Merah), maka dapat disimpulkan bahwa:


1.  Kelas kesesuaian lahan aktual di kawasan Agrowisata ArosGeRah terdapat 3 (tiga) kelas, yaitu 1). Kelas kesesuaian S3: sesuai marginal dengan luas 21.899,56 ha atau sekitar 93%, 2). Kelas kesesuaian S2: cukup sesuai dengan luas 282,93 ha atau sekitar 1%, dan 3). N: tidak sesuai dengan luas 1.374,76 ha atau sekitar 6%.


2.  Faktor pembatas dari kelas kesesuaian lahan yang terdapat di kawasan Agrowisata ArosGeRah adalah lereng (s/m) dan curah hujan yang tidak dapat diperbaiki (permanen).


3.  Kelas kesesuaian lahan potensial di kawasan Agrowisata ArosGeRah adalah S2 (cukup sesuai) mencapai 848,78 Ha atau sekitar 4%, kelas kesesuaian lahan  S3 (sesuai marginal) mencapai 21.333,70 Ha atau sekitar 90%, dan N (tidak sesuai) mencapai 1.374,76 Ha atau sekitar 6%.


4.  Perbaikan yang dapat dilakukan untuk menaikkan kelas kesesuaian aktual menjadi kelas kesesuaian potensial adalah komponen Retensi Hara pada perbaikan C-Organik.


5.  Faktor pembatas yang menjadi hambatan untuk menaikkan kelas kesesuaian lahan aktual ke potensial menjadi 1 (satu tingkat) adalah komponen lereng (s/m) dan Curah hujan.





Sumber:





Anonimous, 2005. Agrowisata Meningkatkan Pendapatan Petani. Pada www. database. deptan. go. id, diakses tanggal 14 Februari 2012.





                 , 2012 a. Biji Buah Rambutan Menurunkan Gula Darah. http//: tanamanobattradisionalku. wordpress. com20120505 biji-buah-rambutan-menurunkan- gula- darah.htm.





Cahyono, 1994 dalam Siswanto 2006. Evaluasi Kelas Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Hortikultura di Kecmatan Watulimo, Kabupaten Tremggalek. Jurnal Pertanian MAPETA Vol. 8 No. 2, UPN “Veteran” Jawa Timur





Sumarwoto,  J. 1990. Pengembangan Agrowisata: Potensi dan Prospek. Seminar Nasional. Pembangunan Pertanian & Pedesaan Sumatera. Berastagi, 5-8 Maret.





Goodwin, H. 2000. Pro Poor Tourism dalam Journal D+C 5/2000, September-Oktober, Jerman.