Kabupaten Bangkalan merupakan salah satu daerah potensial dalam bidang
pertanian yang belum dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata. Terlebih di
wilayah Kabupaten Bangkalan memiliki komoditas hortikultura yang menjadi ciri
khas yang belum dikembangkan secara maksimal. Selain memiliki komoditas
hortikultura yang bisa dijadikan daya tarik wisata Kabupaten Bangkalan juga
memiliki daya tarik di sektor wisata, yaitu berupa sektor wisata religi dan
wisata alam. Secara umum telah disadari
bahwa dalam menunjang pengembangan sektor pariwisata berupa agrowisata yang memiliki
beraneka ragam obyek serta daya tarik, kadar hubungan, lokasi serta
ketersediaan dana dan berbagai faktor penentu lainnya (Anonimous, 2012). Salah satu komoditas unggulan yang memiliki
potensi untuk dikembangkan adalah tanaman rambutan. Rambutan (Nephelium lappaceun Linn) merupakan salah
satu jenis buah-buahan yang banyak dibudidayakan karena rasanya yang enak serta
mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh manusia. Di Indonesia tanaman
rambutan (Nephelium lappaceun Linn)
sangat cocok dibudidayakan karena Indonesia memiliki iklim tropis yang sesuai
dengan syarat tumbuh tanaman rambutan (Nephelium
lappaceun Linn). Peningkatan pendapatan dari sektor pertanian tidak hanya
terfokus pada swasembada tanaman pangan, akan tetapi juga mencakup usaha
pertanian lainnya. Pembangunan sektor pertanian tidak hanya ditujukan untuk
menetapkan swasembada beras dan palawija, juga mencakup usaha-usaha peningkatan
produksi pangan yang berasal dari komoditas hortikultura dan perkebunan yang
memegang peranan penting dalam pembangunan nasional baik dari segi kesehatan,
penyerapan tenaga kerja maupun peningkatan devisa Negara (Cahyono, 1994).
Berdasarkan laporan tahunan Dispertanak Kabupaten Bangkalan 2012 tanaman
rambutan (Nephelium lappaceun Linn)
mempunyai produksi 46.700 kuintal pertahun oleh sebab itu, pengembangan tanaman
rambutan (Nephelium lappaceun Linn)
di Kabupaten Bangkalan sangat berpotensi sehingga perlu adanya evaluasi
kesesuaian lahan. Sumberdaya lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang
sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia karena setiap kegiatan manusia
selalu memerlukan ruang dan lahan. Penggunaan sumberdaya lahan khususnya untuk
aktivitas pertanian pada umumnya ditentukan oleh kemampuan lahan atau
kesesuaian lahan. Lahan mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam upaya
pengembangan suatu komoditas, karena pertumbuhan tanaman memerlukan lingkungan
tumbuh yang sesuai dengan karakteristik tanaman. Kondisi tersebut akan
berpengaruh terhadap produksi dan produktivitas suatu tanaman. Pemilihan lahan
yang sesuai dengan karakteristik tumbuh tanaman akan mempunyai pengaruh yang baik
terhadap pertumbuhan, produksi dan produktivitas tanaman.
Penilaian daya dukung lahan
suatu wilayah terhadap
suatu peruntukan diwujudkan dalam
bentuk kegiatan evaluasi lahan. Hasil evaluasi lahan dinyatakan dengan sangat
sesuai (S1), cukup sesuai (S2), sesuai marjinal (S3), dan tidak sesuai
(N). Menurut Hardjowigeno (2002) diketahuinya data kesesuaian lahan
dan data produksi serta
produktivitas komoditas di daerah
penelitian akan dapat menemukan keselarasan antara
kondisi lahan dengan kemampuan berproduksinya, sehingga
diketahui wilayah-wilayah yang berkonstribusi positif terhadap pengusahaan
komoditas unggulan maupun yang bermasalah.
Agrowisata
Agrowisata atau agroturisme didefinisikan sebagai sebuah bentuk kegiatan
pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (agribisnis) sebagai objek wisata
dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi dan hubungan
usaha di bidang pertanian. Agrowisata merupakan bagian dari objek wisata yang
memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek wisata. Tujuannya adalah
untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha di bidang
pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam
memanfaatkan lahan, diharapkan bisa meningkatkan pendapatan petani sambil
melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal
(indigenous knowledge) yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan
alaminya (Anonimous, 2005).
Konsep agrowisata merupakan kegiatan yang berupaya mengembangkan sumberdaya
alam suatu daerah yang memiliki potensi di bidang pertanian untuk dijadikan
kawasan wisata. Daerah perkebunan, sentra penghasil sayuran tertentu dan
wilayah perdesaan berpotensi besar menjadi objek agrowisata. Potensi yang
terkandung tersebut harus dilihat dari segi lingkungan alam, letak geografis,
jenis produk, atau komoditas pertanian yang dihasilkan, serta sarana dan
prasarananya (Sumarwoto, 1990). Sementara itu, ada juga pandangan yang
menyebutkan bahwa agrowisata adalah usahatani yang pemasarannya berorientasi
pada kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan pariwisata. Misalnya usaha
penggemukan sapi atau budidaya sayur-sayuran yang pemasaran hasilnya diarahkan
untuk memenuhi kebutuhan hotel atau restoran yang melayani wisatawan. Di sini teknologi
yang diterapkan adalah teknologi usahatani yang dapat mencapai mutu produksi
sesuai dengan permintaan hotel atau restoran. Jadi agrowisata merupakan salah
satu bentuk kegiatan agribisnis. Pandangan-pandangan tentang agrowisata
sebagaimana disebutkan sebelumnya, pada dasarnya memberikan pengertian bahwa
adanya keinginan untuk mengkaitkan antara sektor pertanian dan sektor
pariwisata. Harapannya adalah agar sektor pertanian dapat semakin berkembang,
karena mendapatkan nilai-tambah dari sentuhannya dengan sektor pariwisata.
Secara singkat mungkin dapat disebutkan bahwa agrowisata adalah suatu kegiatan
yang secara sadar ingin menempatkan sektor primer (pertanian) di kawasan sektor
tersier (pariwisata), agar perkembangan sektor primer itu dapat lebih dipercepat,
dan petani mendapatkan peningkatan pendapatan dari kegiatan pariwisata yang
memanfaatkan sektor pertanian tersebut. Dengan demikian akan dapat lebih
mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bekerja di sektor primer,
atau sektor primer (pertanian) tidak semakin terpinggirkan dengan perkembangan
kegiatan di sektor pariwisata. Kegiatan agrowisata dapat disebutkan sebagai
kegiatan yang memihak pada rakyat miskin (Goodwin, 2000).
Evaluasi Kesesuaian
Lahan Tanaman Rambutan di Kabupaten Bangkalan
Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan, kelas kesesuaian
lahan tanaman rambutan (Nephelium
lappaceum Linn) yang teridentifikasi di kawasan Agrowisata ArosGeRah
(Arosbaya, Geger, dan Tanah Merah), maka dapat disimpulkan bahwa:
1.
Kelas
kesesuaian lahan aktual di kawasan Agrowisata ArosGeRah terdapat 3 (tiga)
kelas, yaitu 1). Kelas kesesuaian S3: sesuai marginal dengan luas 21.899,56 ha
atau sekitar 93%, 2). Kelas kesesuaian S2: cukup sesuai dengan luas 282,93 ha
atau sekitar 1%, dan 3). N: tidak sesuai dengan luas 1.374,76 ha atau sekitar
6%.
2.
Faktor
pembatas dari kelas kesesuaian lahan yang terdapat di kawasan Agrowisata
ArosGeRah adalah lereng (s/m) dan curah hujan yang tidak dapat diperbaiki
(permanen).
3.
Kelas
kesesuaian lahan potensial di kawasan Agrowisata ArosGeRah adalah S2 (cukup sesuai) mencapai 848,78 Ha atau sekitar 4%, kelas kesesuaian
lahan S3 (sesuai marginal) mencapai 21.333,70 Ha atau sekitar 90%, dan N (tidak sesuai) mencapai 1.374,76 Ha atau sekitar 6%.
4.
Perbaikan
yang dapat dilakukan untuk menaikkan kelas kesesuaian aktual menjadi kelas
kesesuaian potensial adalah komponen Retensi Hara pada perbaikan C-Organik.
5.
Faktor
pembatas yang menjadi hambatan untuk menaikkan kelas kesesuaian lahan aktual ke
potensial menjadi 1 (satu tingkat) adalah komponen lereng (s/m) dan Curah
hujan.
Sumber:
Anonimous, 2005. Agrowisata Meningkatkan Pendapatan Petani. Pada www. database.
deptan. go. id, diakses tanggal 14 Februari 2012.
, 2012 a. Biji Buah Rambutan Menurunkan Gula Darah. http//:
tanamanobattradisionalku. wordpress. com20120505 biji-buah-rambutan-menurunkan-
gula- darah.htm.
Cahyono, 1994 dalam Siswanto 2006. Evaluasi Kelas Kesesuaian Lahan Untuk
Tanaman Hortikultura di Kecmatan Watulimo, Kabupaten Tremggalek. Jurnal
Pertanian MAPETA Vol. 8 No. 2, UPN “Veteran” Jawa Timur
Sumarwoto, J. 1990. Pengembangan
Agrowisata: Potensi dan Prospek. Seminar Nasional. Pembangunan Pertanian
& Pedesaan Sumatera. Berastagi, 5-8 Maret.
Goodwin, H. 2000. Pro Poor Tourism dalam Journal D+C 5/2000,
September-Oktober, Jerman.