I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan termasuk
salah satu negara dengan iklim hujan tropis yang sangat terkenal dengan
kekayaan alamnya. Salah satu kekayaan alam yang dimiliki adalah kanekaragaman
tumbuhan. Mulai dari tumbuhan yang bisa dijadikan tanaman hias, tanaman
sayur-sayuran dan tanaman obat-obatan yang sangat
berguna bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Masyarakat yang menggunakan tanaman obat bukan saja terbatas
di Indonesia, tetapi juga di pelosok negeri lainnya. (Nailoa, 1986). Salah satu
tanaman obat yang banyak digunakan di Indonesia adalah tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.), tanaman ini
termasuk dalam famili Zingiberiaceae
yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Temulawak mempunyai kandungan
yang berkahasiat bagi kesehatan manusia, oleh karena itu
sejak dahulu dan sampai saat ini tanaman temulawak banyak digunakan sebahai
bahan dasar jamu atau obat-obatan. Bagian yang berkhasiat dari temulawak adalah
rimpang yang mengandung berbagai komponen kimia diantanya zat kuning kurkumin,
protein, pati dan minyak atsisri. Pati adalah salah satu
komponen terbesar temulawak
yang dapat dicerna dengan baik sehingga disarankan sebagai
makanan bayi. Minyak atsirinya mengandung senyawa phelandren, kamfer,
borneol, seineal, xanthorhizol. Kandungan xanthorhizol dan kurkumin ini yang
menyebabkan temulawak sangat berkhasiat (Taryono et al, 1987). Selain
itu, tanaman ini merupakan tanaman
penting bagi industri jamu dan kosmetika. Hampir seluruh obat-obatan tradsional
yang terdapat di Indonesia berbahan baku temulawak.
Temulawak termasuk dalam komoditas biofarmaka yang mengalami peningkatan
produksi sebesar 61,69% per tahun, dengan peningkatan luas panen 22,75%
(Anonimus, 2006). Demikian pula produktivitasnya mengalami peningkatan sebesar
31,72%. Produktivitas ini sebenarnya masih rendah hanya sebesar 1,42 kg/m
sedangkan potensinya dapat mencapai 2 kg/m (Rahmat, 1995). Selain untuk
memenuhi kebutuhan bahan obat-obatan dalam negeri, tanaman temu lawak juga
dapat dijadikan salah satu komoditi ekspor di Indonesia. Pada tahun 2003 Ekspor
temulawak Indonesia sebesar 9,149 ton dengan nilai USD 5,452 juta.
Pada dasarnya tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) dapat tumbuh
dengan mudah di Indonesia karena tanaman
ini dapat tumbuh dengan mudah disegala daerah dengan ketinggian 0-1800
mdpl, tetapi selama ini masyarakat umumnya hanya membudidayakannya secara
konvensional yang hanya dijadikan tanaman selingan
atau tanaman sela, padahal untuk
memperoleh produksi yang maksimal dibutuhkan cara budidaya yang baik sesuai dengan
standar. Aspek lain yang menjadi kendala terhadap produksi temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) adalah masih
kurangnya perluasan areal penanaman dan varietas-varietas unggul yang
digunakan, selama ini budiidaya
temulawak hanya menggunakan verietas biasa yang diperoleh dari hasil penanaman
sebelumnya. Umumnya nilai produktivitas yang rendah disebabkan oleh belum
tersedianya varietas unggul, belum adanya standarisasi bibit bermutu dan belum
dilakukannya teknik budidaya anjuran meskipun temulawak telah tersebar di
berbagai daerah (Syukur et al.2006). Tata cara
budidaya yang benar serta penggunaan varietas unggul temulawak yang toleran
terhadap segala jenis lahan, terutama lahan kering menjadi hal yang perlu
dipertimbangkan untuk meningkatkan produksi temulawak di Indonesia.
1.2.Rumusan Masalah
Temulawak
(Currcuma xanthorriza Roxb.) tingkat produksinya masih sangat rendah. Selain itu temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) dapat ditanam dengan mudah pada ketinggian 0-8 mdpl, sehingga hal ini menimbulkan
rumusan masalah atau pertanyan, diantaranya:
1. Bagaimana pengaruh intensitas
cahaya terhadap pertumbuhan tanaman temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) ?.
2. Varietas mana yang mempunyai
pertumbuhan vegetatif yang baik ?.
1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Adapun
tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1.
Respon
tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza
Roxb.) terhadap perbedaan intensitas cahaya matahari.
2.
Pertumbuhan
vegetatif Temulawak (Currcuma xanthorriza
Roxb.) pada intensitas cahaya matahari penuh dan ternaungi.
3.
Untuk
mengetahui pertumbuhan vegetatif Temulawak (Currcuma
xanthorriza Roxb.) dari 4 (empat) verietas
yang diamati.
1.4. Manfaat
Penelitian ini diharapkan berdampak
terhadap pengembangan tanaman temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.), varietas
yang mempunyai pertumbuhan vegetatif dan produktivitas yang baik, sehingga
dapat dijadikan patokan dalam budidaya tanaman temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) oleh masyarakat.
1.5. Hipotesis
Pertumbuhan
tanaman temu lawak dengan intensitas cahaya matahari penuh dan penggunaan
varietas Balitro diduga mempunyai pertumbuhan yang baik dan tertinggi.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.)
2.1.1. Klasifikasi Tanaman Temulawak Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.)
Temulawak merupakan salah satu
tombuhan Indonesia yang banyak digunakan untuk obat atau bahan obat karena
temulawak merupakan komponen penyusun setiap jenis obat tradisional
yang dibuat di Indonesia, baik sebagai simpilia tunggal atau merupakan salah
satu ramuan. (Anonimus, 2007)
Adapun
taksonomi dari tanaman temulawak (Currcuma
xanthorriza Roxb.) adalah sebagai berikut:
Kerajaan
|
:
|
Plantae
|
Divisi
|
:
|
Spermatophyta
|
Sub. Divisi
|
:
|
Angiospermae
|
Kelas
|
:
|
Monocotyledonae
|
Ordo
|
:
|
Zingiberales
|
Famili
|
:
|
Zingiberaceae
|
Genus
|
Curcuma
|
|
Spesies
|
:
|
Currcuma
xanthorriza Roxb
|
2.1.2. Karekteristik Tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.)
Tanaman
temulawak merupakan tanaman obat-obatan yang banyak dijumpai diseluruh daerah
di Indonesia. Temulawak merupakan tanaman terna berbatang semu dengan tinggi
hingga lebih dari 1 meter tetapi kurang dari 2 meter, tanaman berwarna hijau
atau coklat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat,
berwarna hijau gelap. Tiap batang mempunyai daun 2 – 9 helai dengan bentuk
bundar memanjang sampai bangun landset, warna daun hijau atau coklat
keungunan terang sampai gelap,panjang daun 31 – 84 cm dan lebar 10 – 18 cm,
panjang tangkai daun termasuk helaian 43 – 80 cm. Pembungaan laterai,
bertangkai ramping dan sisiknya berbentuk garis,panjang tangkai 9 - 23 cm dan
lebar 4 - 6 cm, berdaun pelindung banyak yang panjangnya melebihi atau
sebanding dengan mahkota bunga. Bunga majemuk temulawak muncul langsung dari
rimpang (exantha) dengan panjang 9-23 cm dan lebar 4-6 cm. Bagian atas bunga majemuk terdiri atas
daundaun pelindung yang membentuk kantung-kantung. Daun-daun pelindung pada ujung bunga mejemuk
berwarna merah lembayung dan mandul (tidak ada bunga) sedangkan pada bagian
yang lebih bawah terdapat 3-5 kuntum bunga berwarna kuning yang mekar satu per satu (Prana
1985; Djakamihardja et al. 1985). Kelopak bunga berwarna putih
berbulu, panjang 8 – 13 mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang
keseluruhan 4,5 cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung
berwarna merah dadu atau merah, panjang 1,25 – 2 cm dan lebar 1cm. (Anonimus,
2010).
Di
Indonesia tanaman ini dikenal dengan tetemulawak (Sumatera), temulawak (Jawa
Tengah), temulobak (Madura). (Supriadi, 2001). Sedangkan nama asing dikenal
dengan Kiang Huang (China),Kurkum (Arab), KunongHuyung (Indochina), Curcuma
(Inggris). (Dalimartha, 2009). Tanaman temulwak dikembangkan dengan rimpangnya,
rimpang yang sudah cukup tua yang telah berumur 9 bulan atau tanaman yangsudah
gugur daunnya. Potongan bibit rimpang yang mengandung 2 – 3 tunas dan dijemur
selama kurang lebih satu minggu antara jam 08.00 – 12.00. (Sudarsono, 1996).
Tanaman temulawak dapat tumbuh diberbagai daerah, akan tetapi untuk memperoleh
produksi yang tinggi sebaiknya tanaman ini dibudidayan ditempat yang sesuai
dengan karekteristik pertumbuhannya (subur). Tanaman temulawak dapat tumbuh
pada daerah dengan tinggi 1.200 mdpl, namun kondisi pertumbuhan yang
paling ideal adalah daerah dengan
ketinggian 750 mdpl dengan curah hujan 1.000 – 4.000 mm/tahun dan suhu udara 19° - 30° C. (Anonimus, 2011).
Temulawak dapat dipanen setelah berusia 8-12 bulan, yang
daunnya telah menguning dan kelihatan hampir mati. Temulawak tidak terlalu
rewel dengan kondisi lahan, lahan yang sudah sering dimanfaatkan sehingga
kondisi unsur haranya sudah amat berkurang pun masih baik untuk ditanami
temulawak (Muhlisah, 1999). Temulawak juga mudah beradaptasi dengan daerah
berpasir, tanah liat maupun tanah merah, yang penting lahan tidak terkena sinar
matahari secara langsung, karena lahan di bawah pepohonan rindang akan membuat
temu ini tumbuh dengan baik. Indikasi bahwa lahan terlalu panas terlihat pada
daun yang menggulung bila terkena panas matahari dan mudah rusak
(Kartasapoetra, 2006).
Kandungan metabolit sekunder tanaman temulawak adalah
rimpangnya. Bagian yang digunakan
adalah rimpang (akar), (Dalimartha, 2006). Komponen utama kandungan zat yang terdapat dalam rimpang temulawak
adalah zat kuning yang di sebut “kurkumin”, protein, pati, dan minyak atsiri
(Rukmana, 1995). Dua komponen utama temulawak yang diketahui mempunyai kegunaan
biologis dengan spektrum luas adalah fraksi zat warna kuning (curcuminoid) 12%
dan fraksi minyak atsiri 5% (Nanik et al, 2002). Minyak atsiri temulawak
mengandung pheleadren, akmfer, borneol, xanthorrhizol, turmerol dan sineal.
Tabel 1. Kandungan Zat yangTerdapatPada Rimpang Temulawak
Kandungan Zatdari Bobot
Kering
|
KP Cimangu Bogor (240 mdpl)
|
KP Manoko Lembang (1.200
mdpl)
|
Kadar
minyak atsiri (%)
|
1,4800
|
1,6300
|
Kadar pati
(%)
|
59,6400
|
48,1800
|
Kadar
serat(%)
|
4,8300
|
2,5800
|
Kabur abu
(%)
|
5,2600
|
7,0700
|
Indeks
bias
|
1,4948
|
1,5010
|
Bobot
jenis
|
0,9236
|
0,9524
|
Warna
minyak
|
Kuning kemerah-merahan
|
Kuning kehijau-hijauan
|
Sumber: Taryono, EM. dkk (1987)
Dalam buku Petunjuk Lengkap
Mengenai Tanaman-Tanaman di Indonesia dan Khasiatnya sebagai Obat-Obatan
Tradisonal (Kloppenburg, J. 1983, Taryono, E.M, 1987) terungkap bahwa kegunaan
temulawak cukup banyakdan beragam bagi pengobatan berbagai penyakit. Diantanya
adalah obat sakit gangguan hati, demam, sakit kuning, pegal-pegal, sembelit,
obat kuat (tonikum), perangsang air
susu (laktagoga) dan obat peluruh
haid (emmenagogum).
Pemakaian rimpang temulawak
sebagai obat, ternyata secara farmakologis memberikan pengaruh positifterhadap
kandung empedu, hati, dan pankreas. Pengaruhnya terhadap kandung empedu antara
lain dapat mencegahpembentukan batu empedu dan kolesistisis. Sementara pengaruh
terhadap hati, diantanya adalah dapat merangsang sel hati membuatempedu,
hepatisis, anti hepatotoksik, membantu menurunkan kadar SGOT dan SGPT serta
berpengaruh baik terhadap pengobatan penyakit hati menahun.
Pengaruh positif terhadap
pankreas cukup banyak, diantaranya dapat merangsang sekresi berikut fungsi
pankreas, menambah nafsu makan, mempengaruhi kontraksi dan tonus usus halus,
bersifat bakterisid dan bakteriostatik, membantu kerja sistem hormonal
metabolisme dan fisiologi organ tubuh. Disamping itu, kandungan zat dalam
rimpang temulawak bersifat diuretik dan tidak bersifat ulseroganik (Ir. Rahmat
Rukmana, 1995).
2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.)
2.2.1. Iklim
Lingkungan tumbuh atau habitatalami temulawak umunnya
merupakan tumbuhan liar yang terdapat ditempat-tempat yangterlindung seperti
dibawah naungan hutan jati, tegalan, padang alang-alang dan hutan belantara.
Tanaman temulawak mempunyai daya adptasi yang sangat tinggi, sehingga tanaman
ini dapat tumbuh dengan mudah di lingkungan yang mempunyai iklimpanas (tropis).
Temu lawak mampu tumbuh dan
berproduksi dengan baik didataran rendah sampai pegunungan (dataran tinggi),
yakni mulai 5 – 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Hasil-hasil
penelitian Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) menunjukkan bahwa
pembudidayaan temulawak didataran rendah (240 mdpl) menghasilkan rimpang yang
kandungan patinya lebih tinggi dibandingkan dengan dataran tinggi. Sebaliknya,
pembudidayaan didataran tinggi mengasilkan rimpang yang kadar minyak atsirinya
lebih tinggi dibandingkan dengan dataran rendah. Kondisi iklim yang paling optimum untuk
pengembangan budidaya temulawak adalah daerah dataran rendah sampai ketinggian
750 mdpl, suhu udaranya antara190--300C, curah hujan
tahunan 1.000-4.000 mm, dan tipe iklimnya termasuk tipe A, B, atau C menurut
Schmidt & Ferguson, temulawak toleran terhdap tempat-tempat yang terlindung
(teduh), sehingga cocok ditanam di bawah pohon-pohon tahunan ataupun di lahan
pekarangan (Ir. Rahmat Rukmana, 1995).
2.2.2. Tanah
Tanah merupakan salah satu komponen dalam bidang pertanian yang penting
untuk dipelajari yang penting untuk dipelajari terutama sifat fisik tanah dan
sifat kimia tanah, antara lain :
a.
Sifat Fisik Tanah
Pada umumnya tanaman temulawak menghendaki tanah yang ringan, berkapur, agak
berpasir sampai liat keras. Tanah yang tekstur/strukturnya baik adalah tanah
yang berasal dari abu gunung berapi atau yang cukup mengandung pasir. Tanah yang demikian pergiliran udara dan air
di dalam tanah berjalan dengan baik.
Tanah tidak menghendaki air tanah yang dangkal, karena dapat membusukkan
perakaran, sekurang-kurangnya kedalaman air tanah 3 meter dari permukaannya.
Demikian pula tanah pasir berat, pada umumnya kapasitas kelembaban kurang, karena
kurang dapat mengikat air. Hal ini dapat
dibuktikan pada pertumbuhan tanaman di tanah-tanah hutan belantara hasilnya
sangat memuaskan, karena humus banyak mengandung berbagai macam zat yang
dibutuhkan untuk petumbuhan dan pembuahan
b. Sifat Kimia Tanah
Sifat kimia tanah yang
dimaksud di sini ialah meliputi kesuburan tanah dan pH. Diatas telah dikemukakan, bahwa tanaman
menghendaki tanah yang dalam, gembur dan banyak mengandung humus. Hal ini tidak
dapat dipisahkan dengan sifat kimia tanah, sebab satu sama lain saling
berkaitan. Tanah yang subur berarti
banyak mengandung zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman untuk
pertumbuhan dan produksi.
Untuk menghasilkan produksi
rimpang yang masksimal (tinggi), temulawak membutuhkan tanah yang subur, gembur,
banyak mengandung bahan organik, tidak mudah becek (menggenang) dan
pengairannya teratur. Jenis tanah yang paling ideal untuk penanaman temulawak adalah
tanah liat. Meskipun demikian, tanah-tanah yang bertekstue liat dapat dipilih
untuk lokasi kebun temulawak asal didukung oleh tingkat pengelolaan yang baik,
terutama penambahan psir dan pemberian pupuk organik (Ir. Rahmat Rukmana,
1995).
2.3. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.)
Pertumbuhan
vegetatif merupakan tahap kedua dalam kehidupan sebuah tanaman setelah selesai
perkecambahan dan mulai fotosintesis. Selama tahap ini tanaman akan
fotosintesis sebanyak mungkin untuk tumbuh menjadi besar karena dapat sebelum
timbulnya berbunga (generatif) fase. Pada dasarnya ini adalah periode antara
perkecambahan dan pertumbuhan awal kematangan seksual ditandai oleh berbunga
(Anonimus, 2007).
Secara
umum telah diterima bahwa pertumbuhan merupakan ciri yang dimiliki oleh semua
makluk hidup, dan merupakan suatu proses yang komplek yang melibatkan banyak
faktor, baik faktor dalam maupun luar (lingkungan). Pada tumbuhan proses
pertumbuhan tersebut melibatkan proses fotosintesis, pembentukan sel baru,
peningkatan dalam ukuran dan berat tumbuhan baik secara keseluruhan tumbuhan
maupun sebagian dari jaringan atau organ. Pertumbuhan merupakan proses kenaikan
volume yang bersifat irreversible, karena adanya penambahan substansi dan
pertambahan sel (Karmana dan Anwar, 1987).
Pertumbuhan
pada tanaman biasa terjadi pada jaringan meristematik misalnya, dalam jaringan
meristem apical, lateral dan interlateral. Pertumbuhan ujung cenderung
menghasilkan pertambahan panjang, pertumbuhan lateral menghasilkan pertambahan
lebar, dan pemanjangan batang serta daun terjadi di dalam meristem interkalar
yang semuanya memerlukan hormon pertumbuhan (Purwati, 2004). Peningkatan jumlah
fotosintat yang dihasilkan selama proses fotosintesis pada fase vegetatif
memungkinkan adanya jumlah dan ukuran organ tanaman disebabkan oleh adanya
peningkatan cadangan makanan fotosintat pada titik tumbuh ( Moko dan
Rosita, 1996). Menurut Salisbury and Ross (1995) bahwa tumbuhan merupakan benda
hidup yang mengolah bahan dan energi di lingkunganya, yang tumbuh dan
berkembang dari zigot menjadi organisme multi sel. Sintesis molekul yang besar
dan kompleks berlangsung terus menerus dari ion dan molekul yang lebih kecil
menjadi lebih besar dan kompleks. Untuk
meningkatkan hasil umbi atau rimpang yang
baik maka perlu ditingkatkan
pertumbuhan vegetatif dari tanaman.
Dengan meningkatnya
pertumbuhan vegetatif, maka pertumbuhan reproduktif
yang meliputi hasil produksi umbi atau rimpang juga
akan meningkat (Gardner, 1991).
2.4. Naungan (Intensitas Cahaya)
Cahaya merupakan salah satu
factor terpenting dalam kelansungan pertumbuhan tanaman, cahayaberperan dalam
pembuatan makanan dari hasil fotosintesis. Cahaya merupakan faktor penting
terhadap berlangsungnya fotosintesis, sementara fotosintesis merupakan proses
yang menjadi kunci dapat berlangsungnya proses metabolisme yang lain di dalam
tanaman (Kramer dan Kozlowski, 1979).
Setiap tanaman atau jenis
pohon mempunyai toleransi yang berlainan terhadap cahaya matahari. Ada tanaman
yang tumbuh baik ditempat terbuka sebaliknya ada beberapa tanaman yang dapat
tumbuh dengan baik pada tempat teduh/bernaungan. Ada pula tanaman yang
memerlukan intensitas cahaya yang berbeda sepanjang periode hidupnya. Pada
waktu masih muda memerlukan cahaya dengan intensitas rendah dan menjelang
sapihan mulai memerlukan cahaya dengan intensitas tinggi (Soekotjo,1976 dalam
Faridah, 1995). Banyak spesies memerlukan naungan pada awal pertumbuhannya,
walaupun dengan bertambahnya umur naungan dapat dikurangi secara bertahap.
Beberapa spesies yang berbeda mungkin tidak memerlukan naungan dan yang lain
mungkin memerlukan naungan mulai awal pertumbuhannya. Pengaturan naungan sangat
penting untuk menghasilkan semai-semai yang berkualitas. Naungan berhubungan
erat dengan temperatur dan evaporasi. Oleh karena adanya naungan, evaporasi
dari semai dapat dikurangi. Beberapa spesies lain menunjukkan perilaku yang
berbeda. Beberapa spesies dapat hidup dengan mudah dalam intensitas cahaya yang tinggi tetapi beberapa
spesies tidak. (Suhardi et al, 1995).
2.5. Pengolahan Lanjutan
Rimpang temulawak dapat
dijadikan sebagai bahan komodi ekspor,. Persyaratan kualiatas (mutu)
rimpangtemulawak untuk ekspor meliputi warna, rasa kelembaban, kadar abu pati
dan minyak atsiri sebagaimana di sajikan pada table di bawah ini.
Komponen Mutu
|
Kriteria Standart Mutu
|
Warna
|
Kuning
jingga sampai cokelat kuning jingga
|
Aroma
|
Khas warna
aromatis
|
Rasa
|
Mirip
rempah-rempah dan agak pahit
|
Kelembaban
(Maks)
|
12%
|
Kadar abu
|
3% - 7%
|
Kadar
pasir
|
1%
|
Kadar
minyak atsiri (min.)
|
5%
|
Sumber: M.
Hadad, E.A (Balitro, 1991)
Selain itu, rimpang temulawak dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai sajian
minuman, obat tradisional atau digunakan pencelup kerajinan
anyaman. Di Jawa Barat rimpang temulawak diambil tepungnya untuk dijadikan
pangan jajanan seperti kue dan lain-lainnya.
Rimpang temulawak sudah umum
digunakan sebagai obattradisional, ramuan yang paling sederhana antara lain
untuk obatpenambah nafsu makan dan obat gangguan leveratau kandung empedu.
Selain itu rimpang temulawak sering digunakan sebagai pencelup pandan untuk
anyaman kerajinan, perendaman dilakukan untuk memperoleh warna kuning dari
rimpang temulawak sehingga anyaman terlihat menarik.
III.
METODOLOGI
3.1. Tempat Dan
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di
Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura yang terletak
pada ketinggian 3 meter di atas permukaan laut pada bulan Pebruari – Juni 2012
3.2. Tahapan Penelitian
3.2.1. Pembibitan
Pembibitan tanaman temulawak dilakukan
dilahan di Desa Guluk-Guluk Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep dengan
bibit induk yang diperoleh dari
Pasuruan, Balitro, Jember dan Sumenep.
Sebelum pembibitan dilakukan, terlebih
dahulu harus menentukan umur tanaman. Rumpun tanaman yang baik adalah yang
sudah berumur tua (10-12 bulan). Tujuan dari penunasan tanaman adalah untuk
mendapatkan bibit yang berkualitas baik pada saat pertumbuhannya kelak
dilapangan.
3.2.2. Persiapan Lahan
Pengolahan tanah dilakukan dua minggu sebelum tanam. Tanah di cangkul terlebih
dahulu hingga gembur dan dibuat petakan/bedengan dengan saluran drainase di
pinggir petakan tesebut. Adapun lebar bedengan adalah 120-200 cm, tinggi ± 30
cm dan jarak antar bedengan 30-40 cm. Pengolahan lahan disetai pemberian pupuk
kotoran sapi yang sudah matang sebanyak 1-2 kg, penyiapan lahan untuk tanaman
temulawak dilakukan 15 hari sebelum tanam.
3.2.3. Penanaman
Penanaman
dilakukan secara tugal dengan kedalaman 3 cm, jarak tanaman 60 x 60 cm dengan 1
benih per lubang. Bersamaan dengan
waktu penanaman juga diberi pupuk organik dan buatan dengan cara disebar secara
merata pada tiap bedengan.
3.2.4. Pemeliharaan
Pada tahap pemeliharaan dilakukan beberapa beberapa hal, meliputi:
a. Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari, karena bibit tanaman
muda temulawak memerlukan air yang cukup dan memadai, akan tetapi penyiraman
harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan sebanyak pada saat awal penanaman dan
saat tanaman berumur2 bulan.
c. Penyulaman
Penyulaman dilakukan ketika terdapat tanaman yang mati
pada saat pertumbuhannya.
d. Pemupukan.
Pemupukan dilakukan
pada saat awal tanam dan pada saat tanaman berumur 2 bulan.
3.2.5. Pengamatan
Pengamatan dilakukan secara destruktif dan non destruktif, dimulai 1minggu setelah
tanam sampai 12 minggu stelah tanam dengan interval pengamatan 7 hari sekali.
Parameter yang diamati antara lain :
a. Tinggi tanaman
Tinggi tanaman diukur mulai dari permukaan tanah
sampai tunas daun
b. Jumlah daun
Jumlah daun yang masuk perhitungan parameter
dihitung daun yang sudah membuka sempurna
c. Berat basah tanaman
Berat basah tanaman dihitung pada akhir
penelitian, berat basah dihitung sebelum tanaman yang diamati dikeringkan
d. Berat kering tanaman
Berat
kering tanaman dihitung setelah tanaman di oven terlebih dahulu
3.3. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah cangkul,
tugal, bak plastic, sabit, timbangan analitik, oven, penggaris dan paranet.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah temulawak varietas lokal (Sumenep, varietas unggul (Balitro),
Varietas Pasuruan, dan Jember
3.4. Rancangan Pelenelitian
Penelitian ini
menggunakan Split Plot dengan 2 perlakuan kombinasi dengan 3 ulangan yakni
sebagai berikut :
1. Faktor I (satu) Intensitas
Cahaya
C1
|
=
|
Dengan intensitas cahaya penuh (tidak dinaungi) dengan
presentase intensitas cahaya 100%
|
C2
|
=
|
Dengan intesitas cahaya tidak penuh (dinaungi) dengan
naungan paranet yang mempunyai persentase intensitas cahaya 70 %
|
2. Faktor II (dua) Varietas
Faktor 2 (dua)
V1
|
=
|
Varietas Sumenep
|
V2
|
=
|
Varietas Balitro
|
V3
|
=
|
Varietas Pasuruan
|
V4
|
=
|
Varietas Jember
|
Dalam
penelitian ini diperoleh 8 (delapan) kombinasi perlakuan yang diulang
3 kali. Adapun hasil kombinasinya sebagai berikut :
|
|||||||||||
Dengan 3
(tiga) kali ulangan dan 8 kombinasi yang diperoleh dapat dibuat denah, sebagai
berikut ini:
Sesuai dengan rancangan yang digunakan,
maka model statistik yang digunakan adalah :
Yijk = µ + Ai + Kk + ABijk + cijk
i = 1, 2, 3,…………,a
j = 1,2,3...........,b dan
k =1.2.3,.......u
Dimana:
Yijk
|
:
|
Pengamatan
faktor A taraf ke-i, Faktor B taraf ke-j dan Kelompok ke-k
|
µ
|
:
|
Rataan
Umum
|
Ai
|
:
|
Pengaruh
Faktor A pada taraf ke-i
|
Bj
|
:
|
Pengaruh
Faktor B pada taraf ke-j
|
Kk
|
:
|
Pengaruh
Kelompok ke-k
|
ABij
|
:
|
Interaksi
Faktor A dengan B
|
cijk
|
:
|
Pengaruh
Galat pada Faktor A taraf ke-i, faktor B taraf ke-j dan kelompok ke-k
|
Atau
Yijk = µ + Ki + Vj + Pk
+ (VP)jk + Cijk
Dimana:
Yijk
|
:
|
Nilai
pengamatan akibat pengaruh dari kelompok ke-i, varietas ke-j dan kelompok
ke-k
|
µ
|
:
|
Nilai
tengah populasi rata-rata
|
Ki
|
:
|
Pengaruh
kelompok ke-i
|
Vj
|
:
|
Pengaruh
varietas ke-j (1,2)
|
Pk
|
:
|
Pengaruh
Kelompok ke-k
|
(VP)jk
|
:
|
Interaksi
Faktor K dengan V
|
Cijk
|
:
|
Galat
percobaan
|
Thank's
BalasHapus