ABUNALI JA'FAR

Sabtu, 30 Juni 2012

Pengaruh Naungan dan Varietas terhadap Tanaman Temulawak


                                                                                                                                                  I.         PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

            Negara Indonesia merupakan termasuk salah satu negara dengan iklim hujan tropis yang sangat terkenal dengan kekayaan alamnya. Salah satu kekayaan alam yang dimiliki adalah kanekaragaman tumbuhan. Mulai dari tumbuhan yang bisa dijadikan tanaman hias, tanaman sayur-sayuran dan tanaman obat-obatan yang sangat berguna bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Masyarakat yang menggunakan  tanaman obat bukan saja terbatas di Indonesia, tetapi juga di pelosok negeri lainnya. (Nailoa, 1986). Salah satu tanaman obat yang banyak digunakan di Indonesia adalah tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.), tanaman ini termasuk dalam famili Zingiberiaceae yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Temulawak mempunyai kandungan yang berkahasiat bagi kesehatan manusia, oleh karena itu sejak dahulu dan sampai saat ini tanaman temulawak banyak digunakan sebahai bahan dasar jamu atau obat-obatan. Bagian yang berkhasiat dari temulawak adalah rimpang yang mengandung berbagai komponen kimia diantanya zat kuning kurkumin, protein, pati dan minyak atsisri. Pati adalah salah satu komponen  terbesar temulawak yang dapat dicerna dengan baik sehingga disarankan sebagai makanan bayi. Minyak atsirinya mengandung senyawa phelandren, kamfer, borneol, seineal, xanthorhizol. Kandungan xanthorhizol dan kurkumin ini yang menyebabkan temulawak sangat berkhasiat (Taryono et al, 1987).      Selain itu,  tanaman ini merupakan tanaman penting bagi industri jamu dan kosmetika. Hampir seluruh obat-obatan tradsional yang terdapat di Indonesia berbahan baku  temulawak.  Temulawak termasuk dalam komoditas biofarmaka yang mengalami peningkatan produksi sebesar 61,69% per tahun, dengan peningkatan luas panen 22,75% (Anonimus, 2006). Demikian pula produktivitasnya mengalami peningkatan sebesar 31,72%. Produktivitas ini sebenarnya masih rendah hanya sebesar 1,42 kg/m sedangkan potensinya dapat mencapai 2 kg/m (Rahmat, 1995). Selain untuk memenuhi kebutuhan bahan obat-obatan dalam negeri, tanaman temu lawak juga dapat dijadikan salah satu komoditi ekspor di Indonesia. Pada tahun 2003 Ekspor temulawak Indonesia sebesar 9,149 ton dengan nilai USD 5,452 juta.
            Pada dasarnya tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) dapat tumbuh dengan mudah di Indonesia karena tanaman  ini dapat tumbuh dengan mudah disegala daerah dengan ketinggian 0-1800 mdpl, tetapi selama ini masyarakat umumnya hanya membudidayakannya secara konvensional yang hanya dijadikan tanaman selingan atau  tanaman sela, padahal untuk memperoleh produksi yang maksimal dibutuhkan cara budidaya yang baik sesuai dengan standar. Aspek lain yang menjadi kendala terhadap produksi temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) adalah masih kurangnya perluasan areal penanaman dan varietas-varietas unggul yang digunakan, selama ini  budiidaya temulawak hanya menggunakan verietas biasa yang diperoleh dari hasil penanaman sebelumnya. Umumnya nilai produktivitas yang rendah disebabkan oleh belum tersedianya varietas unggul, belum adanya standarisasi bibit bermutu dan belum dilakukannya teknik budidaya anjuran meskipun temulawak telah tersebar di berbagai daerah (Syukur et al.2006). Tata cara budidaya yang benar serta penggunaan varietas unggul temulawak yang toleran terhadap segala jenis lahan, terutama lahan kering menjadi hal yang perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan produksi temulawak di Indonesia.

1.2.Rumusan Masalah

            Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) tingkat produksinya masih sangat rendah. Selain itu temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) dapat ditanam dengan mudah  pada ketinggian 0-8 mdpl, sehingga hal ini menimbulkan rumusan masalah atau pertanyan, diantaranya:
1.    Bagaimana pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan tanaman temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) ?.
2.    Varietas mana yang mempunyai pertumbuhan vegetatif yang baik ?.

1.3.             Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1.    Respon tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) terhadap perbedaan intensitas cahaya matahari.
2.    Pertumbuhan vegetatif Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) pada intensitas cahaya matahari penuh dan ternaungi.
3.    Untuk mengetahui pertumbuhan vegetatif Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) dari 4 (empat) verietas yang diamati.

1.4.             Manfaat

Penelitian ini diharapkan berdampak terhadap pengembangan tanaman temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.), varietas yang mempunyai pertumbuhan vegetatif dan produktivitas yang baik, sehingga dapat dijadikan patokan dalam budidaya tanaman temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) oleh masyarakat.

1.5.            ­­­­­­­­­­­­­­ Hipotesis

            Pertumbuhan tanaman temu lawak dengan intensitas cahaya matahari penuh dan penggunaan varietas Balitro diduga mempunyai pertumbuhan yang baik dan tertinggi.






 
                                                                                                                                     II.          TINJAUAN PUSTAKA

2.1.            Tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.)

2.1.1.      Klasifikasi Tanaman Temulawak Temulawak (Currcuma  xanthorriza Roxb.)

            Temulawak merupakan salah satu tombuhan Indonesia yang banyak digunakan untuk obat atau bahan obat karena temulawak merupakan komponen penyusun setiap jenis obat tradisional yang dibuat di Indonesia, baik sebagai simpilia tunggal atau merupakan salah satu ramuan. (Anonimus, 2007)
            Adapun taksonomi dari tanaman temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.) adalah sebagai berikut:
Kerajaan
:
Plantae
Divisi
:
Spermatophyta
Sub. Divisi
:
Angiospermae
Kelas
:
Monocotyledonae
Ordo
:
Zingiberales
Famili
:
Zingiberaceae
Genus


Curcuma
Spesies
:
Currcuma xanthorriza Roxb

 

2.1.2.      Karekteristik Tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.)

            Tanaman temulawak merupakan tanaman obat-obatan yang banyak dijumpai diseluruh daerah di Indonesia. Temulawak merupakan tanaman terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1 meter tetapi kurang dari 2 meter, tanaman berwarna hijau atau coklat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap. Tiap batang mempunyai daun 2 – 9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun landset, warna daun hijau atau coklat keungunan terang sampai gelap,panjang daun 31 – 84 cm dan lebar 10 – 18 cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43 – 80 cm. Pembungaan laterai, bertangkai ramping dan sisiknya berbentuk garis,panjang tangkai 9 - 23 cm dan lebar 4 - 6 cm, berdaun pelindung banyak yang panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Bunga majemuk temulawak muncul langsung dari rimpang (exantha) dengan panjang 9-23 cm dan lebar 4-6 cm.  Bagian atas bunga majemuk terdiri atas daundaun pelindung yang membentuk kantung-kantung.  Daun-daun pelindung pada ujung bunga mejemuk berwarna merah lembayung dan mandul (tidak ada bunga) sedangkan pada bagian yang lebih bawah terdapat 3-5 kuntum bunga berwarna kuning yang mekar satu per satu (Prana 1985; Djakamihardja et al. 1985).   Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8 – 13 mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4,5 cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung berwarna merah dadu atau merah, panjang 1,25 – 2 cm dan lebar 1cm. (Anonimus, 2010).
            Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan tetemulawak (Sumatera), temulawak (Jawa Tengah), temulobak (Madura). (Supriadi, 2001). Sedangkan nama asing dikenal dengan Kiang Huang (China),Kurkum (Arab), KunongHuyung (Indochina), Curcuma (Inggris). (Dalimartha, 2009). Tanaman temulwak dikembangkan dengan rimpangnya, rimpang yang sudah cukup tua yang telah berumur 9 bulan atau tanaman yangsudah gugur daunnya. Potongan bibit rimpang yang mengandung 2 – 3 tunas dan dijemur selama kurang lebih satu minggu antara jam 08.00 – 12.00. (Sudarsono, 1996). Tanaman temulawak dapat tumbuh diberbagai daerah, akan tetapi untuk memperoleh produksi yang tinggi sebaiknya tanaman ini dibudidayan ditempat yang sesuai dengan karekteristik pertumbuhannya (subur). Tanaman temulawak dapat tumbuh pada daerah dengan tinggi 1.200 mdpl, namun kondisi pertumbuhan yang paling  ideal adalah daerah dengan ketinggian 750 mdpl dengan curah hujan 1.000 – 4.000 mm/tahun dan suhu udara 19° - 30° C. (Anonimus, 2011).
            Temulawak dapat dipanen setelah berusia 8-12 bulan, yang daunnya telah menguning dan kelihatan hampir mati. Temulawak tidak terlalu rewel dengan kondisi lahan, lahan yang sudah sering dimanfaatkan sehingga kondisi unsur haranya sudah amat berkurang pun masih baik untuk ditanami temulawak (Muhlisah, 1999). Temulawak juga mudah beradaptasi dengan daerah berpasir, tanah liat maupun tanah merah, yang penting lahan tidak terkena sinar matahari secara langsung, karena lahan di bawah pepohonan rindang akan membuat temu ini tumbuh dengan baik. Indikasi bahwa lahan terlalu panas terlihat pada daun yang menggulung bila terkena panas matahari dan mudah rusak (Kartasapoetra, 2006).
            Kandungan  metabolit sekunder tanaman temulawak adalah rimpangnya. Bagian yang digunakan adalah rimpang (akar), (Dalimartha, 2006). Komponen utama kandungan  zat yang terdapat dalam rimpang temulawak adalah zat kuning yang di sebut “kurkumin”, protein, pati, dan minyak atsiri (Rukmana, 1995). Dua komponen utama temulawak yang diketahui mempunyai kegunaan biologis dengan spektrum luas adalah fraksi zat warna kuning (curcuminoid) 12% dan fraksi minyak atsiri 5% (Nanik et al, 2002). Minyak atsiri temulawak mengandung pheleadren, akmfer, borneol, xanthorrhizol, turmerol dan sineal.


Tabel 1. Kandungan Zat yangTerdapatPada Rimpang Temulawak
Kandungan Zatdari Bobot Kering
KP Cimangu Bogor (240 mdpl)
KP Manoko Lembang (1.200 mdpl)
Kadar minyak atsiri (%)
1,4800
1,6300
Kadar pati (%)
59,6400
48,1800
Kadar serat(%)
4,8300
2,5800
Kabur abu (%)
5,2600
7,0700
Indeks bias
1,4948
1,5010
Bobot jenis
0,9236
0,9524
Warna minyak
Kuning kemerah-merahan
Kuning kehijau-hijauan
 Sumber: Taryono, EM. dkk (1987)
Dalam buku Petunjuk Lengkap Mengenai Tanaman-Tanaman di Indonesia dan Khasiatnya sebagai Obat-Obatan Tradisonal (Kloppenburg, J. 1983, Taryono, E.M, 1987) terungkap bahwa kegunaan temulawak cukup banyakdan beragam bagi pengobatan berbagai penyakit. Diantanya adalah obat sakit gangguan hati, demam, sakit kuning, pegal-pegal, sembelit, obat kuat (tonikum), perangsang air susu (laktagoga) dan obat peluruh haid (emmenagogum).
Pemakaian rimpang temulawak sebagai obat, ternyata secara farmakologis memberikan pengaruh positifterhadap kandung empedu, hati, dan pankreas. Pengaruhnya terhadap kandung empedu antara lain dapat mencegahpembentukan batu empedu dan kolesistisis. Sementara pengaruh terhadap hati, diantanya adalah dapat merangsang sel hati membuatempedu, hepatisis, anti hepatotoksik, membantu menurunkan kadar SGOT dan SGPT serta berpengaruh baik terhadap pengobatan penyakit hati menahun.
Pengaruh positif terhadap pankreas cukup banyak, diantaranya dapat merangsang sekresi berikut fungsi pankreas, menambah nafsu makan, mempengaruhi kontraksi dan tonus usus halus, bersifat bakterisid dan bakteriostatik, membantu kerja sistem hormonal metabolisme dan fisiologi organ tubuh. Disamping itu, kandungan zat dalam rimpang temulawak bersifat diuretik dan tidak bersifat ulseroganik (Ir. Rahmat Rukmana, 1995).

2.2.            Syarat Tumbuh Tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.)

2.2.1.      Iklim

            Lingkungan tumbuh atau habitatalami temulawak umunnya merupakan tumbuhan liar yang terdapat ditempat-tempat yangterlindung seperti dibawah naungan hutan jati, tegalan, padang alang-alang dan hutan belantara. Tanaman temulawak mempunyai daya adptasi yang sangat tinggi, sehingga tanaman ini dapat tumbuh dengan mudah di lingkungan yang mempunyai iklimpanas (tropis).
Temu lawak mampu tumbuh dan berproduksi dengan baik didataran rendah sampai pegunungan (dataran tinggi), yakni mulai 5 – 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Hasil-hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) menunjukkan bahwa pembudidayaan temulawak didataran rendah (240 mdpl) menghasilkan rimpang yang kandungan patinya lebih tinggi dibandingkan dengan dataran tinggi. Sebaliknya, pembudidayaan didataran tinggi mengasilkan rimpang yang kadar minyak atsirinya lebih tinggi dibandingkan dengan dataran rendah.  Kondisi iklim yang paling optimum untuk pengembangan budidaya temulawak adalah daerah dataran rendah sampai ketinggian 750 mdpl, suhu udaranya antara190--300C, curah hujan tahunan 1.000-4.000 mm, dan tipe iklimnya termasuk tipe A, B, atau C menurut Schmidt & Ferguson, temulawak toleran terhdap tempat-tempat yang terlindung (teduh), sehingga cocok ditanam di bawah pohon-pohon tahunan ataupun di lahan pekarangan (Ir. Rahmat Rukmana, 1995).

2.2.2.      Tanah

Tanah merupakan salah satu komponen dalam bidang pertanian yang penting untuk dipelajari yang penting untuk dipelajari terutama sifat fisik tanah dan sifat kimia tanah, antara lain :
a.       Sifat Fisik Tanah
Pada umumnya tanaman temulawak  menghendaki tanah yang ringan, berkapur, agak berpasir sampai liat keras. Tanah yang tekstur/strukturnya baik adalah tanah yang berasal dari abu gunung berapi atau yang cukup mengandung pasir.  Tanah yang demikian pergiliran udara dan air di dalam tanah berjalan dengan baik.  Tanah tidak menghendaki air tanah yang dangkal, karena dapat membusukkan perakaran, sekurang-kurangnya kedalaman air tanah 3 meter dari permukaannya. Demikian pula tanah pasir berat, pada umumnya kapasitas kelembaban kurang, karena kurang dapat mengikat air.  Hal ini dapat dibuktikan pada pertumbuhan tanaman di tanah-tanah hutan belantara hasilnya sangat memuaskan, karena humus banyak mengandung berbagai macam zat yang dibutuhkan untuk petumbuhan dan pembuahan
b. Sifat Kimia Tanah
Sifat kimia tanah yang dimaksud di sini ialah meliputi kesuburan tanah dan pH.  Diatas telah dikemukakan, bahwa tanaman menghendaki tanah yang dalam, gembur dan banyak mengandung humus. Hal ini tidak dapat dipisahkan dengan sifat kimia tanah, sebab satu sama lain saling berkaitan.  Tanah yang subur berarti banyak mengandung zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan produksi.
Untuk menghasilkan produksi rimpang yang masksimal (tinggi), temulawak membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, tidak mudah becek (menggenang) dan pengairannya teratur. Jenis tanah yang paling ideal untuk penanaman temulawak adalah tanah liat. Meskipun demikian, tanah-tanah yang bertekstue liat dapat dipilih untuk lokasi kebun temulawak asal didukung oleh tingkat pengelolaan yang baik, terutama penambahan psir dan pemberian pupuk organik (Ir. Rahmat Rukmana, 1995).

2.3.            Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Temulawak (Currcuma xanthorriza Roxb.)

Pertumbuhan vegetatif merupakan tahap kedua dalam kehidupan sebuah tanaman setelah selesai perkecambahan dan mulai fotosintesis. Selama tahap ini tanaman akan fotosintesis sebanyak mungkin untuk tumbuh menjadi besar karena dapat sebelum timbulnya berbunga (generatif) fase. Pada dasarnya ini adalah periode antara perkecambahan dan pertumbuhan awal kematangan seksual ditandai oleh berbunga (Anonimus, 2007).
Secara umum telah diterima bahwa pertumbuhan merupakan ciri yang dimiliki oleh semua makluk hidup, dan merupakan suatu proses yang komplek yang melibatkan banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar (lingkungan). Pada tumbuhan proses pertumbuhan tersebut melibatkan proses fotosintesis, pembentukan sel baru, peningkatan dalam ukuran dan berat tumbuhan baik secara keseluruhan tumbuhan maupun sebagian dari jaringan atau organ. Pertumbuhan merupakan proses kenaikan volume yang bersifat irreversible, karena adanya penambahan substansi dan pertambahan sel (Karmana dan Anwar, 1987).
Pertumbuhan pada tanaman biasa terjadi pada jaringan meristematik misalnya, dalam jaringan meristem apical, lateral dan interlateral. Pertumbuhan ujung cenderung menghasilkan pertambahan panjang, pertumbuhan lateral menghasilkan pertambahan lebar, dan pemanjangan batang serta daun terjadi di dalam meristem interkalar yang semuanya memerlukan hormon pertumbuhan (Purwati, 2004). Peningkatan jumlah fotosintat yang dihasilkan selama proses fotosintesis pada fase vegetatif memungkinkan adanya jumlah dan ukuran organ tanaman disebabkan oleh adanya peningkatan cadangan  makanan fotosintat pada titik tumbuh ( Moko dan Rosita, 1996). Menurut Salisbury and Ross (1995) bahwa tumbuhan merupakan benda hidup yang mengolah bahan dan energi di lingkunganya, yang tumbuh dan berkembang dari zigot menjadi organisme multi sel. Sintesis molekul yang besar dan kompleks berlangsung terus menerus dari ion dan molekul yang lebih kecil menjadi lebih besar dan kompleks. Untuk  meningkatkan  hasil  umbi atau rimpang  yang  baik maka  perlu  ditingkatkan  pertumbuhan vegetatif  dari  tanaman.  Dengan meningkatnya  pertumbuhan  vegetatif,  maka pertumbuhan  reproduktif  yang meliputi hasil produksi umbi atau rimpang  juga  akan meningkat (Gardner,  1991).

2.4.            Naungan (Intensitas Cahaya)

Cahaya merupakan salah satu factor terpenting dalam kelansungan pertumbuhan tanaman, cahayaberperan dalam pembuatan makanan dari hasil fotosintesis. Cahaya merupakan faktor penting terhadap berlangsungnya fotosintesis, sementara fotosintesis merupakan proses yang menjadi kunci dapat berlangsungnya proses metabolisme yang lain di dalam tanaman (Kramer dan Kozlowski, 1979).
Setiap tanaman atau jenis pohon mempunyai toleransi yang berlainan terhadap cahaya matahari. Ada tanaman yang tumbuh baik ditempat terbuka sebaliknya ada beberapa tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada tempat teduh/bernaungan. Ada pula tanaman yang memerlukan intensitas cahaya yang berbeda sepanjang periode hidupnya. Pada waktu masih muda memerlukan cahaya dengan intensitas rendah dan menjelang sapihan mulai memerlukan cahaya dengan intensitas tinggi (Soekotjo,1976 dalam Faridah, 1995). Banyak spesies memerlukan naungan pada awal pertumbuhannya, walaupun dengan bertambahnya umur naungan dapat dikurangi secara bertahap. Beberapa spesies yang berbeda mungkin tidak memerlukan naungan dan yang lain mungkin memerlukan naungan mulai awal pertumbuhannya. Pengaturan naungan sangat penting untuk menghasilkan semai-semai yang berkualitas. Naungan berhubungan erat dengan temperatur dan evaporasi. Oleh karena adanya naungan, evaporasi dari semai dapat dikurangi. Beberapa spesies lain menunjukkan perilaku yang berbeda. Beberapa spesies dapat hidup dengan mudah dalam  intensitas cahaya yang tinggi tetapi beberapa spesies tidak. (Suhardi et al, 1995).


2.5.            Pengolahan Lanjutan

Rimpang temulawak dapat dijadikan sebagai bahan komodi ekspor,. Persyaratan kualiatas (mutu) rimpangtemulawak untuk ekspor meliputi warna, rasa kelembaban, kadar abu pati dan minyak atsiri sebagaimana di sajikan pada table di bawah ini.
Komponen Mutu
Kriteria Standart Mutu
Warna
Kuning jingga sampai cokelat kuning jingga
Aroma
Khas warna aromatis
Rasa
Mirip rempah-rempah dan agak pahit
Kelembaban (Maks)
12%
Kadar abu
3% - 7%
Kadar pasir
1%
Kadar minyak atsiri (min.)
5%
Sumber: M. Hadad, E.A (Balitro, 1991)
Selain itu, rimpang temulawak dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai sajian minuman, obat tradisional atau digunakan pencelup kerajinan anyaman. Di Jawa Barat rimpang temulawak diambil tepungnya untuk dijadikan pangan jajanan seperti kue dan lain-lainnya.
Rimpang temulawak sudah umum digunakan sebagai obattradisional, ramuan yang paling sederhana antara lain untuk obatpenambah nafsu makan dan obat gangguan leveratau kandung empedu. Selain itu rimpang temulawak sering digunakan sebagai pencelup pandan untuk anyaman kerajinan, perendaman dilakukan untuk memperoleh warna kuning dari rimpang temulawak sehingga anyaman terlihat menarik.

           

                                                                                                                                               III.          METODOLOGI

3.1.      Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura yang terletak pada ketinggian 3 meter di atas permukaan laut pada bulan Pebruari  – Juni 2012
3.2.      Tahapan Penelitian
3.2.1.   Pembibitan
Pembibitan tanaman temulawak dilakukan dilahan di Desa Guluk-Guluk Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep dengan bibit induk yang diperoleh dari  Pasuruan, Balitro, Jember dan Sumenep.
Sebelum pembibitan dilakukan, terlebih dahulu harus menentukan umur tanaman. Rumpun tanaman yang baik adalah yang sudah berumur tua (10-12 bulan). Tujuan dari penunasan tanaman adalah untuk mendapatkan bibit yang berkualitas baik pada saat pertumbuhannya kelak dilapangan.
3.2.2.   Persiapan Lahan
Pengolahan tanah dilakukan dua minggu sebelum tanam. Tanah di cangkul terlebih dahulu hingga gembur dan dibuat petakan/bedengan dengan saluran drainase di pinggir petakan tesebut. Adapun lebar bedengan adalah 120-200 cm, tinggi ± 30 cm dan jarak antar bedengan 30-40 cm. Pengolahan lahan disetai pemberian pupuk kotoran sapi yang sudah matang sebanyak 1-2 kg, penyiapan lahan untuk tanaman temulawak dilakukan 15 hari sebelum tanam.


3.2.3.   Penanaman
Penanaman dilakukan secara tugal dengan kedalaman 3 cm, jarak tanaman 60 x 60 cm dengan 1 benih per lubang. Bersamaan dengan waktu penanaman juga diberi pupuk organik dan buatan dengan cara disebar secara merata pada tiap bedengan.
3.2.4.   Pemeliharaan
Pada tahap pemeliharaan dilakukan beberapa beberapa hal, meliputi:
a.    Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari, karena bibit tanaman muda temulawak memerlukan air yang cukup dan memadai, akan tetapi penyiraman harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
b.    Penyiangan
Penyiangan dilakukan sebanyak pada saat awal penanaman dan saat tanaman berumur2 bulan.
c.    Penyulaman
Penyulaman dilakukan ketika terdapat tanaman yang mati pada saat pertumbuhannya.
d.   Pemupukan.
 Pemupukan dilakukan pada saat awal tanam dan pada saat tanaman berumur 2 bulan.
3.2.5.   Pengamatan
Pengamatan dilakukan secara destruktif  dan non destruktif, dimulai 1minggu setelah tanam sampai 12 minggu stelah tanam dengan interval pengamatan 7 hari sekali. Parameter yang diamati antara lain :

a.    Tinggi tanaman
Tinggi tanaman diukur mulai dari permukaan tanah sampai tunas daun
b.    Jumlah daun
Jumlah daun yang masuk perhitungan parameter dihitung daun yang sudah membuka sempurna
c.    Berat basah tanaman
Berat basah tanaman dihitung pada akhir penelitian, berat basah dihitung sebelum tanaman yang diamati dikeringkan
d.   Berat kering tanaman
 Berat kering tanaman dihitung setelah tanaman di oven terlebih dahulu
3.3.      Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah cangkul, tugal, bak plastic, sabit, timbangan analitik, oven, penggaris dan paranet. Sedangkan bahan yang digunakan adalah temulawak varietas lokal (Sumenep, varietas unggul (Balitro), Varietas Pasuruan, dan Jember
3.4.      Rancangan Pelenelitian
Penelitian ini menggunakan Split Plot  dengan 2  perlakuan kombinasi dengan 3 ulangan yakni sebagai berikut :
1.    Faktor I (satu) Intensitas Cahaya
C1

=
Dengan intensitas cahaya penuh (tidak dinaungi) dengan presentase intensitas cahaya 100%
C2

=
Dengan intesitas cahaya tidak penuh (dinaungi) dengan naungan paranet yang mempunyai persentase intensitas cahaya 70 %







2.    Faktor II (dua) Varietas
Faktor 2 (dua)
V1
=
Varietas Sumenep
V2
=
Varietas Balitro
V3
=
Varietas Pasuruan
V4
=
Varietas Jember
           
Dalam penelitian ini diperoleh  8 (delapan)  kombinasi perlakuan yang diulang 3 kali. Adapun hasil kombinasinya sebagai berikut :
C1V1
C2V1
C1V2
C2V2
C1V3
C2V3
C1V4
C2V4







Dengan 3 (tiga) kali ulangan dan 8 kombinasi yang diperoleh dapat dibuat denah, sebagai berikut ini:







            Sesuai dengan rancangan yang digunakan, maka model statistik yang digunakan adalah :
Yijk = µ + Ai + Kk + ABijk + cijk
i =  1, 2, 3,…………,a   
j = 1,2,3...........,b  dan
k =1.2.3,.......u 

Dimana:
Yijk
:
Pengamatan faktor A taraf ke-i, Faktor B taraf ke-j dan Kelompok ke-k
µ
:
Rataan Umum
Ai
:
Pengaruh Faktor A pada taraf ke-i
Bj
:
Pengaruh Faktor B pada taraf ke-j
Kk
:
Pengaruh Kelompok ke-k
ABij
:
Interaksi Faktor A dengan B
cijk
:
Pengaruh Galat pada Faktor A taraf ke-i, faktor B taraf ke-j dan kelompok ke-k
Atau
Yijk = µ + Ki + Vj + Pk + (VP)jk + Cijk
Dimana:
Yijk
:
Nilai pengamatan akibat pengaruh dari kelompok ke-i, varietas ke-j dan kelompok ke-k
µ
:
Nilai tengah populasi rata-rata
Ki
:
Pengaruh kelompok ke-i
Vj
:
Pengaruh varietas ke-j (1,2)
Pk
:
Pengaruh Kelompok ke-k
(VP)jk
:
Interaksi Faktor K dengan V
Cijk

:
Galat percobaan
















1 komentar: